(Deteksi Dini, Pertolongan Pertama Dan Pencegahan Terhadap Serangan Jantung)

Oleh : dr. Miryanti Cahyaningtias

Nyeri dada merupakan satu keluhan yang menakutkan seseorang karena belum mengetahui dimana sumber penyebab nyeri dan apakah nyeri tersebut merupakan suatu kegawat daruratan atau bukan. Beberapa organ di daerah dada juga dapat menyebabkan nyeri yaitu : jantung, paru, kerongkongan, otot, tulang dan kulit. Pada artikel ini penulis ingin membahas lebih dalam tentang nyeri dada yang diakibatkan oleh penyakit jantung yang menyebabkan serangan jantung yang berujung pada kematian. Menurut data dari WHO, sampai dengan tahun 2008, serangan jantung masih merupakan pembunuh no 1 didunia, dengan angka kematian sebesar 29% setiap tahunnya. Seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat di Indonesia khususnya di kota – kota besar, maka resiko kejadian terhadap penyakit inipun makin meningkat. Di Amerika, sebanyak 1,5 juta orang tiap tahunnya terkena penyakit ini. Dilaporkan juga bahwa wanita lebih banyak meninggal akibat penyakit jantung dengan angka sebesar 31,5% dan pria sebesar 26,8%  1.Macam Nyeri Dada (chest pain)

Diantara nyeri dada yang merupakan kegawatan dan mengancam nyawa serta membutuhkan pertolongan segera, yaitu2,3,4:

1. Serangan Jantung (heart attack / acute myocardial infarction)

Serangan jantung ini merupakan akibat aliran darah  pada pembuluh darah yang menuju jantung (pembuluh darah koroner) menjadi tersumbat, sehingga kekurangan aliran darah, hal ini mengakibatkan otot jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen yang pada akhirnya terjadi kerusakan dan kematian otot jantung. Nyeri dada yang terjadi pada serangan jantung bisa berlangsung beberapa jam.

2. Angina

Angina merupakan nyeri dada yang diakibatkan ketidak seimbangan antara kebutuhan oksigen pada jantung dan jumlah oksigen yang diantarkan oleh darah. Hal ini diakibatkan oleh sumbatan atau penyempitan pembuluh darah yang memasok darah menuju jantung. Angina berbeda dari serangan jantung karena pada angina penyumbatan tidak terjadi secara total, sehingga kerusakan pada jantung yang terjadi hanyalah sedikit atau tidak permanen. Keluhan pada angina ini hanya berlangsung beberapa menit.

Angina dibedakan menjadi dua macam, yaitu yang stabil dan tidak stabil.

  1. Angina stabil : keluhan dapat terjadi berulang dan seringkali timbul saat beraktifitas serta keluhan hilang bila beristirahat.
  2. Angina tidak stabil : seringkali tidak dapat diduga kemunculannya, tidak bisa hilang dengan istirahat, atau bahkan nyeri dapat timbul saat istirahat.

 

Gambaran Klinis2,3,4

Baik serangan jantung maupun angina keduanya memberikan keluhan pada pasien berupa:

  • Rasa tidak nyaman pada dada (chest discomfort) yang meliputi: rasa tertekan, terikat, rasa penuh atau nyeri.
  • Rasa tidak nyaman pada tubuh bagian atas yang berupa : rasa nyeri atau tidak nyaman pada satu atau kedua lengan, punggung, leher, rahang atau lambung
  • Sesak nafas
  • Keluar keringat dingin dan mual

Penyebab Serangan Jantung dan Angina2

Baik serangan jantung maupun angina disebabkan oleh penyakit jantung koroner (coronary artery disease) yang merupakan akibat dari penimbunan kolesterol pada pembuluh darah koroner (atherosclerosis), bekuan darah (blood clots) atau spasme pembuluh darah yang menuju jantung.

Faktor – Faktor Resiko Serangan Jantung dan Angina2,5

  1. Faktor resiko yang dapat diubah:
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)

Tekanan darah yang tinggi membuat beban jantung bertambah dan membuat jantung menebal dan kaku. Hal ini tidak hanya meningkatkan resiko terhadap serangan jantung tetapi juga terhadap stroke, gagal ginjal dan gagal jantung. Resiko terhadap serangan jantung dan stroke meningkat lebih tinggi apabila pada seseorang didapatkan pula tekanan darah yang tinggi, obesitas, merokok, kadar kolesterol yang tinggi dan diabetes mellitus.

  • Kencing manis (diabetes mellitus)

Diabetes mellitus dapat meningkatkan terjadinya penyakit jantung. Kurang lebih tiga perempat pasien dengan diabetes meninggal akibat terkena penyakit jantung dan pembuluh darah.

  • Merokok

Seorang perokok mempunyai resiko terkena penyakit jantung koroner 2-4 kali lebih tinggi daripada yang bukan perokok. Bahkan hanya dengan merokok saja sangat berpotensi untuk menyebabkan kematian mendadak pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Rokok juga memperbesar resiko terkena penyakit jantung koroner pada pasien-pasien yang telah mempunyai faktor resiko lainnya. Adanya paparan terhadap orang yang merokok juga ikut meningkatkan orang yang bukan perokok untuk menjadi beresiko terhadap penyakit jantung koroner.

  • Kolesterol yang tinggi

Bila kadar kolesterol darah tinggi, maka resiko terkena penyakit jantung koroner juga tinggi dan resikonya bertambah besar bila ada faktor resiko tekanan darah yang tinggi dan merokok. Kadar kolesterol pada seseorang dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, keturunan dan diet.

  • Kurang Olah Raga

Kurang olah raga meningkatkan faktor resiko terkena penyakit jantung koroner. Latihan fisik yang dilakukan teratur, intensitas sedang dan giat dapat membantu mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah. Latihan fisik ini dapat membantu mengontrol kadar kolesterol, diabetes dan obesitas sebagaimana dapat menurunkan tekanan darah yang tinggi (pada sebagian orang).

  • Obesitas

Seseorang yang memiliki kelebihan lemak pada tubuh lebih memudahkan terjadinya penyakit jantung dan stroke walaupun mereka tidak mempunyai faktor-faktor resiko yang lain. Kelebihan berat badan mengakibatkan kerja jantung bertambah berat, selain itu juga dapat meningkatkan tekanan darah, kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah, serta menurunkan kolesterol HDL. Obesitas juga memudahkan seseorang untuk terkena diabetes. Dengan menurunkan berat badan sebanyak 10 pound (4,53 kg), maka resiko terkena penyakit jantung juga menurun.

  • Stres

Stres juga memberikan kontribusi terhadap resiko terjadinya serangan jantung. Hal ini didasarkan pada kondisi dimana orang yang stress mempunyai kecenderungan makan lebih banyak, mulai merokok atau merokok melebihi biasanya.

  • Minuman beralkohol

Minum minuman beralkohol dapat meningkatkan tekanan darah yang dapat menyebabkan gagal jantung dan mencetuskan stroke. Alkohol juga berperan dalam peningkatan trigliserida, kanker, irama jantung yang tidak teratur, serta penyakit-penyakit lain. Alkohol juga memberikan kontribusi terhadap terjadinya obesitas, alkoholisme (kecenderungan minum alkohol lebih dari yang direncanakan dan kegagalan usaha untuk menghentikan minuman keras tersebut), bunuh diri dan kecelakaan.

2.  Faktor resiko yang tidak dapat diubah:

ü  Usia

Lebih dari 83% pasien yang meninggal karena penyakit jantung koroner berusia lebih dari 65 tahun

ü  Jenis kelamin

Laki-laki mempunyai resiko terkena serangan jantung lebih tinggi dan dengan usia yang lebih muda daripada wanita.Bahkan resiko laki-laki tetap lebih tinggi dibandingkan wanita yang sudah menopause

ü  Keturunan (hereditas)

Anak-anak yang terlahir dari orang tua yang mempunyai riwayat penyakit jantung mempunyai kecenderungan penyakit yang sama di kemudian hari

ü  Riwayat dalam keluarga : serangan jantung sebelum usia 60 tahun dan serangan jantung terdahulu

ü  Wanita yang menopause

Wanita yang menopause mempunyai resiko terkena serangan jantung lebih tinggi daripada wanita yang belum menopause

Penanganan Nyeri Dada kiri3

  1. Sebelum di Rumah Sakit (Pre Hospital)

Bila seseorang merasakan nyeri dada dengan gambaran klinis yang khas seperti yang telah dijelaskan diatas, maka tindakan yang harus segera dilakukan adalah  segera mengunyah tablet Aspirin® atau Aspilet® 2 tablet sekaligus (160 mg)dan menghisap tablet Nitrogliserin 5 mg dibawah lidah dan selanjutnya SEGERA KE RUMAH SAKIT.

2. Di Rumah Sakit

Penanganan yang dini dan tepat pada sebelum dan saat di rumah sakit pada :

ü  Angina

Bertujuan untuk mencegah bekuan darah menutup secara total pada pembuluh darah koroner sehingga mencegah terjadinya serangan jantung

Obat-obat yang digunakan yaitu: mengunyah tablet Aspirin® 2 tablet sekaligus (160 mg), menghisap tablet nitrogliserin 5 mg dibawah lidah dan pemberian Clopdogrel 4 tablet (300 mg).

ü  Serangan Jantung

Bertujuan untuk menghancurkan bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah koroner dan memperbaiki sirkulasi darah yang menuju jantung. Makin cepat penanganan di rumah sakit, maka makin banyak otot jantung yang dapat terselamatkan. Menurut Advanced Cardiology Life Support (ACLS), waktu kritis (time window) yang dimiki oleh pasien serangan jantung untuk segera diberikan pertolongan adalah 30 sampai 90 menit setelah serangan terjadi.

Tindakan yang dilakukan:

  1. Pemberian obat-obatan yang diberikan sama dengan obat untuk angina
  2. Reperfusi

Merupakan hal terpenting dalam penanganan serangan jantung (Infarct Myocard) dengan peningkatan segmen ST dalam rekaman elektrokardiogram (EKG).

  1. Fibrinolisis

Obat ini diberikan bila onset serangan jantung kurang dari 3 jam sejak awal serangan. Obat ini diberikan dalam waktu kurang dari 30 menit  setelah pasien tiba di rumah sakit (door to needle), dimana sebelumnya dokter menilai pasien tidak mempunyai kontraindikasi terhadap obat fibrinolisis tersebut atau tidak tersedia fasilitas penanganan invasive. Pemberian fibrinolisis bertujuan untuk membatasi luasnya infark pada fungsi bilik jantung yang masih normal dan mengurangi angka kematian.6

  1. Terapi invasive

Terapi invasive  dilakukan dengan pemasangan Percutaneus Coronary Intervention(PCI). Tindakan ini dilakukan dengan memasukkan balon angioplasty ke dalam pembuluh darah koroner  dengan menggunakan panduan cathether yang masuk melalui pembuluh darah Femoralis di paha untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit akibat terjadinya atherosclerosis sekaligus menghancurkan timbunan plak akibat kolesterol yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah koroner tersebut, selanjutnya dilakukan pemasangan stent untuk mempertahankan dan memperkuat posisi pembuluh darah koroner yang sudah dilebarkan tersebut.7 Tindakan ini dilakukan bila tersedia fasilitas untuk PCI, onset serangan jantung lebih dari 3 jam, pasien memiliki kontraindikasi terhadap fibrinolisis. Tindakan ini dilakukan bila kontak antara dokter dan pasien (door to ballon) kurang dari 90 menit.6

Pencegahan2

Menurut American Heart Association, untuk mencegah terjadinya angina dan serangan jantung maka hendaknya diterapkan pola hidup “jantung sehat” (heart healthy lifestyle) yaitu dengan mengurangi faktor resiko yang mempunyai efek-efek yang signifikan terhadap terjadinya penyakit jantung koroner, yaitu berupa:

Jangan merokok

Pertahankan berat tubuh yang sehat

Makan makanan yang bergizi, makanan yang rendah lemak dalam jumlah kecil

Latihan fisik kurang lebih 30 menit sehari

Mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol yang tinggi

Jika anda penderita diabetes, kontrollah kadar gula dalam darah setiap hari

Kesimpulan

Setiap nyeri dada harus dikenali tipe nyerinya, bila nyerinya sangat khas terjadi pada dada kiri, menjalar ke lengan kiri, rahang atau menembus punggung, hilng dengan istirahat bisa sangat dicurigai bahwa telah terjadi angina atau gejala angina tetapi tidak hilang dengan istirahat dan berlangsung sampai beberapa jam, sangat dicurigai bahwa telah terjadi serangan jantung. Baik angina maupun serangan jantung ini sama- sama diakibatkan oleh penutupan pembuluh darah koroner oleh akibat penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah, adanya bekuan darah yang menutup lumen pembuluh darah koroner atau akibat spasme pembuluh darah tersebut. Faktor resiko terjadinya penyakit jantung koroner terdiri factor yang tidak dapat diubah dan factor yang dapat diubah. Diharapkan dengan mengendalikan faktor resiko yang dapat diubah, maka dapat memperkecil kemungkinan terkenanya serangan jantung ataupun angina, dimana saat ini serangan jantung masih merupakan pembunuh nomer satu di dunia. Dengan penangan yang cepat dan tepat, maka angina tidak akan menjadi serangan jantung dan serangan jantung tidak berujung pada kematian.

Penulis berharap setelah adanya informasi yang sederhana ini maka dapat menambah wawasan pembaca sehingga dapat mengenali angina dan serangan jantung, mengendalikan faktor resiko, melakukan pencegahan  dan memberikan pertolongan pertama pada korban sesegera mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Chandra A. WHO: Sakit jantung pembunuh no 1 di dunia. [online], (http://travel.kompas.com/read/2008/10/28/12315315/WHO.:.Sakit.Jantung.Pembunuh.No.1.di.Dunia), diakses tanggal 4 Agustus 2011.
  2. “__________“,2009, Chest Pain, [online], (http://www.emedicinehealth.com/chest_pain/article_em.htm) , diakses tanggal 4 Agustus 2011.
  3. “___________“, 2008, Chest Pain, [online], (http://www.cardiologychannel.com/chestpain/index/shtml), diakses tanggal 4 Agustus 2011.
  4. “___________“, 2009, Acute Coronary Syndrome, [online], (http://www.americanheart.org/presenter.jthml?identifier=3010002), diakses tanggal4 Agustus 2011.
  5. “__________“, 2009, Risk Factor And Coronary Heart Disease, [online], (http://www.americanheart.org/presenter.jthml?identifier=4726), diakses tanggal 4 Agustus 2011.
  6. Karo-Karo S, Rahajoe AU, Sulistyo S editor. Buku panduan Bantuan Hidup Jantung Lanjut. Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI); 2008. p 70-81.
  7. Stoufer III GA, 2011, Percutaneus coronary intervention. [online], (http://emedicine.medscape.com/article/161446), diakses tanggal 4 Agustus 2011.


Leave a Reply

December 2017
M T W T F S S
« Aug    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Categories